Postingan

[CERBUNG] - After the Rain Part 1

Dikedai kopi yang tidak terlalu ramai ini aku duduk memandangi hujan yang turun cukup deras. Langit seolah memahami suasana hatiku yang memang sedang sendu. Namaku Sheryl Cataleya Hazel, orang-orang biasa memanggilku Sheryl tapi teman dekatku biasa memanggilku Sye.   Aku seorang mahasiswi tingkat akhir jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta di Depok. Aku baru saja selesai menjalani ujian akhir semester dan sekarang aku sedang berusaha fokus menyelesaikan skripsiku yang akan di uji dalam beberapa bulan kedepan. Pikiranku melayang   kepada sosok lelaki yang sampai tiga bulan lalu masih mengisi kehidupanku. Lelaki yang akhirnya memutuskan untuk menghilang bagai ditelan bumi, meninggalkanku saat kami sedang baik-baik saja dan membuatku bertanya-tanya kesalahan apa yang aku lakukan sehingga dia lebih memilih pergi dalam diam serta tanpa kalimat perpisahan. Yaaa walaupun aku tau, tidak ada yang bisa menerima perpisahan dengan baik-baik saja. Hujan sudah mulai reda, aku b...

Tidak Mudah

Aku merindukan sosok yang selalu membuatku optimis tanpa memaksaku untuk optimis. Aku merindukan sosok yang selalu tersenyum melihat tingkah konyolku. Aku merindukan sosok yang mau menemaniku melakukan hal-hal tidak terduga. Aku anak pendiam yang banyak surprise katanya. Aku anak pendiam yang bisa menjadi sangat pecicilan di hadapannya. Terakhir kami berkomunikasi ketika aku mendatangi pernikahan salah satu teman yang menjadi sahabat baiknya. Sekarang ia sudah bahagia. Dia sudah menemukan jalan hidupnya bersama perempuan yang ia cintai dan tentu bukan aku. Tidak, aku tidak ingin dia kembali. Aku tau itu tidak mungkin dan tidak boleh. Aku hanya merindukan sosoknya, merindukan momen yang pernah kulalui bersamanya. Berjalan kaki menyusuri Braga dan Asia Afrika di Bandung, berkeliling stadion naik motor untuk menikmati lampu-lampu, atau sekedar bertemu untuk bercerita tentang bagaimana hari yang   kami lalui. Aku memang bisa mengulang semua itu bersama orang lain, tapi tentu rasany...

Mengenang

Mengenang apa yang masih mampu aku kenang tanpa mata yang menggenang. Apa kamu tau seberapa sulitnya bagiku melakukan itu? bayangmu selalu hadir setiap hari. Setiap sudut jalan ini mengingatkanku akan dirimu. Kamu tau? Tak pernah sekalipun aku melihat lampu-lampu tanpa mengenangmu meski hanya sedetik. Masih terbayang jelas bagaimana ekspresi wajahmu saat itu. wajah yang berbinar bercampur bingung. Kamu bingung betapa aku sangat menyukai lampu-lampu, tapi kamu tetap menemaniku menikmati lampu-lampu itu tanpa sedikitpun melayangkan protes. Hanya kamu yang bersedia melakukan itu tanpa mengeluh. Kamu tau kamu hanya harus mengikuti keinginanku saat aku memintanya tanpa perlu bertanya kenapa. Terkadang aku merindukan sosok itu. sosok yang hanya akan menemaniku tanpa bertanya kenapa. Bersedia menghadapi diam seribu bahasa milikku. Membiarkanku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Kamu tau? Ternyata hanya kamu juga yang mengatakan bahwa aku bisa mengeluhkan apapun yang aku...