[CERBUNG] - After the Rain Part 1
Dikedai kopi yang tidak terlalu ramai ini aku duduk memandangi hujan yang turun cukup deras. Langit seolah memahami suasana hatiku yang memang sedang sendu. Namaku Sheryl Cataleya Hazel, orang-orang biasa memanggilku Sheryl tapi teman dekatku biasa memanggilku Sye. Aku seorang mahasiswi tingkat akhir jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta di Depok. Aku baru saja selesai menjalani ujian akhir semester dan sekarang aku sedang berusaha fokus menyelesaikan skripsiku yang akan di uji dalam beberapa bulan kedepan.
Pikiranku melayang kepada sosok lelaki yang sampai tiga bulan lalu masih mengisi kehidupanku. Lelaki yang akhirnya memutuskan untuk menghilang bagai ditelan bumi, meninggalkanku saat kami sedang baik-baik saja dan membuatku bertanya-tanya kesalahan apa yang aku lakukan sehingga dia lebih memilih pergi dalam diam serta tanpa kalimat perpisahan. Yaaa walaupun aku tau, tidak ada yang bisa menerima perpisahan dengan baik-baik saja.
Hujan sudah mulai reda, aku bersiap untuk pulang. Ku cukupkan pikiranku yang melayang kepada masa lalu. Aku harus mencari distraksi lain. Aku bergegas karena jika tidak, mungkin hujan akan turun lagi. Aku naik kereta terakhir malam ini. Hujan deras tadi menahanku cukup lama.
Sebuah notifikasi pesan masuk ketika aku sampai dirumah. Dari teman kampusku.
Dina : Sye, I have something
to tell you.
Sye : Yupp, apa nihh?
Dina : Besok ya, gue tunggu
di café samping kampus.
Sye : Serius bener, kenapa
sih, Din?
Dina : Besok ya Sye.
Sekalian maksiii..
Dah lama kan gak makan bareng kita. Ga kgn
gue apa loooo?
Sye : Hahahaha oke baikkk
ibuuu. See yaaa *kiss kiss*
Aku dan Dina adalah teman satu kampus yang berada di jurusan yang sama tapi beda kelas. Aku mengenal Dina dari UKM yang kami ikuti bersama, kemudian kita ikut program magang yang sama dan satu team. Jadi bisa dibilang, aku cukup dekat dengan Dina.
Aku meletakkan HP ku dan segera mandi lalu tidur. Hari ini cukup menguras pikiran dan hati. Selain karena UAS yang ternyata cukup sulit dikerjakan, juga karena pikiranku yang bermain-main dengan masa lalu tadi di café.
***
Hari ini langit cukup cerah, tidak mendung seperti kemarin. Aku bersiap berangkat ke café dekat kampus untuk menemui Dina. Sebenarnya hari ini aku tidak ada jadwal ke kampus, tapi karena penasaran sama apa yang mau Dina kasih tau, aku jadi pergi. Kalau di pikir-pikir, benar juga kata Dina semalam, aku sudah cukup lama tidak bertemu Dina. UAS ini benar-benar menyita waktuku dengan teman-teman sekitar.
Pukul 1 siang aku sudah duduk di café tempat kami janjian kemarin. Aku menunggu Dina yang ternyata masih ada urusan kampus dan baru akan selesai jam set 2 nanti. Sambil menunggu, aku iseng membuka galeri yang berisi screenshoot chat dengan laki-laki yang sangat kurindukan kehadirannya.
Sudah lama sejak terakhir kali kami saling bertukar kabar. Aku tidak tau bagaimana kabarnya sekarang, karena dia juga bukan tipe lelaki yang suka update di social media mengenai kehidupan pribadinya. Aku jadi ingat ketika pertama kali dia memulai obrolan antara kami dulu, melalui DM Instagram yang berlanjut dengan dia yang meminta ID Line milikku. Dia lucu sekali.
“Hey! Bengong ajaa..” Seseorang menepuk pundakku pelan, ternyata Dina.
“Haiiii.. lama banget lo.” Jawabku
“Udah lama emang? Udah pesen apa aja?”
“Pesen kenangan dari masa lalu.” Dina tersenyum mendengarnya. Oke, aku tau sesuatu telah terjadi. Tidak biasanya Dina hanya tersenyum ketika aku menjadi cheesy seperti itu.
Aku dan Dina mengobrol cukup banyak, saling bercerita tentang hari yang kami lalui dan seputar UAS kemarin. Dina bercerita bagaimana hubungannya dengan Kak Adit, semua berjalan baik dan mereka memutuskan akan bertunangan dahulu sampai Dina lulus kemudian bekerja. Aku turut senang mendengarnya, ternyata ini yang ingin Dina sampaikan padaku. Kabar bahagia yang membuatku juga bersyukur karena Dina terlihat sangat bahagia sekarang.
Matahari sudah mulai turun, aku dan Dina memutuskan untuk pulang. Kami pulang bersama naik kereta, rumahku dan Dina tidak terlalu jauh sebenarnya. Hanya saja kami berbeda satu stasiun turun keretanya. Kami mengobrol dan tertawa seperti biasa, sampai aku menemukan raut wajah yang tidak biasa dari Dina.
Dina terlihat bingung, padahal dia punya kabar baik tadi untukku. Semakin kuperhatikan, tingkahnya semakin aneh dan terlihat bimbang.
“Din, lo kenapa? Kok bingung gitu mukanya?” tanyaku
“Sye, gue bilang kan semalem kalo ada hal yang mau gue kasih tau ke lo?”
“Tentang lo sama Kak Adit kan? Itu berita bagus Din, gue ikut seneng lhooo..”
“Bukan itu Sye, ini tentang….” Suara Dina menjadi pelan, hampir tidak terdengar.
“Tentang….?”
“Kak Damas, Sye..” Jawabnya.
Aku sedikit terkejut mendengarnya. Jadi ini tentang sosok lelaki yang aku rindukan dan membuatku bertanya-tanya kenapa dia mendadak menghilang dari kehidupanku. Kuputuskan untuk tetap diam dan menunggu Dina menyelesaikan kalimat yang ingin disampaikannya.
Dina melanjutkan, “Kak Damas bakal tunangan Sye, bulan ini.”
Kali ini aku benar-benar dibuat terdiam oleh kalimat Dina barusan. Rasanya seperti ada beban berat yang menghantam dadaku. Rasanya sesak sekali. Aku merasakan pandanganku mulai kabur dan mataku memanas, bersiap menjatuhkan air mata yang cepat sekali menggenangnya.
“Sye, sorry. Sorry banget, gue tau ini terlalu mendadak buat lo. Gue sama Kak Adit juga baru tau kemaren pas Kak Damas nanya ke Kak Adit masalah proses tunangan segala macem. Gue Cuma mau lo tau dari gue sebagai temen yang tau perasaan lo. Gue gak mau lo tau dari orang lain.” Jelasnya.
“Sama siapa Din?” tanyaku dengan suara yang serak.
“Gue juga gak tau, gak ada yang dikasih tau sama Kak Damas sebelumnya. Dia Cuma bilang dia dikenalin sama temennya ke cewek ini.”
“Sejak kapan dikenalinnya?”
“Hmmm tiga bulan yang lalu,”
Aku semakin dibuat diam dengan semua penjelasan Dina. Jadi ini alasannya lelaki itu menghilang bagai ditelan bumi 3 bulan yang lalu. Jadi ini alasannya dia membalas pesanku seperlunya, ini alasannya dia selalu mengabaikan telfonku, ini alasannya dia selalu menghindar jika aku ingin menemuinya, ini alasannya dia pergi meninggalkanku.
“Sye…” suara Dina menarikku kembali pada kesadaranku. Aku menahan segala perasaan yang berkecamuk dan mencoba menampilkan senyum terbaik yang ku miliki di hadapan Dina.
“Perempuan itu pasti cantik dan memesona. Dasar yaa Kak Damas, lamaa menghilang tau-tau bawa kabar mau tunangan. Perlu di jitak nih nanti kalo ketemu.” Aku mengatakannya dengan nada ceria bercampur kesal seolah aku sama sekali tidak keberatan dengan kabar itu.
Semesta memihakku hari ini, kereta tiba di stasiun tujuanku.
“Yahh udah sampe, padahal pengen tau cerita lengkapnya hufttt.” Kataku
“Sye, are you okay?”
“I’m okay kok Din. Thanks yaaa udah kasih tau gue. Gue duluan yaaa, byeee!!” jawabku seraya berjalan keluar kereta. Aku tersenyum memandangi kereta yang membawa Dina berjalan menjauh. Ketika ekor kereta benar-benar sudah tidak terlihat lagi, barulah aku menghela nafas dengan berat disertai bulir air mata pertama yang jatuh di hari ini.
Langkahku gontai menuju pintu keluar stasiun. Aku yang biasanya memesan ojek online untuk sampai ke rumah dengan cepat, kali ini kuputuskan untuk naik angkutan umum saja. Aku sedang tidak ingin sampai dirumah cepat-cepat. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menahan air mataku supaya tidak jatuh di dalam angkot, tapi tidak bisa. Aku akhirnya menitikkan air mata, tidak peduli meski di dalam angkot banyak orang lain yang memperhatikan. Hatiku terlalu sakit untuk menahannya lebih lama lagi.
Aku turun dari angkot persis di depan gerbang perumahanku. Aku berjalan kaki sambil terus menangis, kali ini dengan suara isakan yang cukup keras. Suasana jalan yang sepi sore itu membuatku lebih leluasa untuk menangis dengan keras tanpa ada yang mendengarnya. Aku terus berjalan dengan langkah yang gontai, jalan kaki kali ini rasanya lama sekali hingga aku sampai di depan gerbang rumahku.
Terngiang kalimat manis yang pernah Kak Damas sampaikan padaku, “Aku gak akan kemana-mana, Sye. Aku gak akan pergi kecuali kamu yang minta.” Begitu katanya dulu. Rasanya kini seperti ia tak pernah bicara begitu. Ia pergi padahal aku tak pernah memintanya untuk pergi.
Aku membuka gerbang rumahku masih dengan suara isak tangis yang tak mau berhenti. Aku duduk di bangku teras rumahku setelah menutup gerbang. Aku menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menenangkan diriku sendiri dan berhenti menangis. Setelah tangisku sedikit mereda, aku baru membuka pintu rumah.
Aku bergegas masuk ke kamar setelah menyapa Mama sebentar. Pertanyaan Mama mengenai mataku yang sembab hanya mampu ku jawab dengan gelengan kepala dan senyum yang dipaksakan, tidak sanggup ku katakan penyebabnya.
Setelah menutup pintu kamar dan menguncinya, air mataku kembali jatuh. Aku kembali terisak tanpa suara. Sakit sekali rasanya kehilangan seseorang di saat yang sepertinya baik-baik saja. Aku tau pasti ada alasan dibalik keputusan Kak Damas yang tiba-tiba ini, tapi aku tidak sanggup untuk bertanya saat ini. Aku merasa Kak Damas memang sudah mengusirku dari kehidupannya. Semua air mata dan pikiran buruk yang berkecamuk ini membawaku hingga terlelap.
Komentar
Posting Komentar